Kisah Bo, Hari Pertama Anak Pemulung ke Sekolah

Kisah Bo, Hari Pertama Anak Pemulung ke Sekolah

Kisah Bo, Hari Pertama Anak Pemulung ke Sekolah

Namanya Syaril, teman-teman menggilnya Bo, kami pun memanggil demikian.

 

Umurnya 8 tahun. Bo adalah anak yang super aktif. Ia tak pernah diam. Terus bergerak. Saya ingat 3 tahun lalu saat pertama kali menemukannya . Ia datang ke Taman Edukasi Anak Pemulung Gp Jawa, hanya untuk membuat kerusuhan kecil.

Saat itu, Bo naik hingga ke puncak tenda (teratak) tempat kami belajar. Semua relawan panik. Bo tak bergeming. Ia tak bisa diajak bicara.

Saat awal-awal ia datang ke tempat kami, tak ada yang bisa mengendalikan

. Ia terus menerus melakukan kegaduhan. Tubuhnya kecil, namun dia melawan siapa yang ada. Berkali-kali Bo dihajar teman-teman karena tingkah usilnya.

Kata teman-teman, Bo tak pernah mandi, bajunya tak pernah diganti. Bo adalah singkatan dari Kribo, karena rambutnya bergelombang, tak pernah dicuci, jarang dipotong. Bo tak punya Ayah, ibunya terbaring sakit.

Pelan-pelan namun pasti. Berkat keuletan dan kesabaran para relawan, bo mulai membuka diri. Ia mulai koorperatif, mulai bisa diajak bicara.

Sering bersama istri, saya berinisiatif menculik Bo. Kami membawanya jalan-jalan. Sebelum berangkat kami selalu membuat perjanjian kecil dengannya.

“Tak ada kerusuhan” “tak ada kegaduhan” “duduk tenang” “tak boleh berkata kotor

”. Lalu Bo bersaksi, ia pun berjanji.

Sepanjang perjalanan Bo membuktikan janjinya, dia duduk tenang. Dia mulai berbicara dengan teratur. Kami berdiskusi banyak hal dengan Bo. Ia sampai bercerita banyak. Bo curhat.

Pada satu sesi, dipinggir pantai ulee lhee. Saya melihat Bo memandang keluar jendela mobil. Matanya menatap lurus ke arah laut, saat itu matahari mulai turun. Matahari mulai jingga.

Lalu, Ia berkata datar pada istri saya. “Kak lagak that laot nyoe kak ya, mata uroe pih lagak that kak ya” saya tercekat, tak bisa berkata-kata. Saya merasakan hatinya. Saya merasakan bahwa sesungguhnya dia paham defenisi keindahan. Sesungguhnya hatinya lembut, tak keras seperti yang terlihat.

Beberapa bulan lalu, kami dengan para relawan, menyadari satu hal. Bahwa Bo telah berumur 8 tahun, harusnya sekarang ia sudah kelas 2 SD. Tapi Bo belum pun sekolah.

 

Baca Juga :