Menilik Proses Uji Kompetensi Keahlian di SMKN 1 Cibadak

Menilik Proses Uji Kompetensi Keahlian di SMKN 1 Cibadak

Menilik Proses Uji Kompetensi Keahlian di SMKN 1 Cibadak

Kemendikbud — SMK Negeri 1 Cibadak, Sukabumi, Jawa Barat, dikenal sebagai sekolah kejuruan yang fokus pada bidang pertanian. Sekolah ini tercatat sebagai sekolah rujukan bagi seluruh SMK pertanian di Indonesia. Ada tujuh kompetensi keahlian yang diselenggarakan di sini yaitu, Teknologi pengolahan hasil pertanian dan perikanan, Pengawasan mutu hasil pertanian, Agribisnis tanaman pangan dan holtikultura, Agribisnis ternak ruminansia, Agribisnis ternak unggas, Budidaya ikan, dan Multimedia.

Saat disambangi oleh tim www.kemdikbud.go.id pada Jumat (3/3/2017), ada dua bidang kompetensi yang sedang melakukan Uji Kompetensi Keahlian (UKK), yaitu bidang kompetensi Pengawasan Mutu Hasil Pertanian dan Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian dan Perikanan. Berikut ulasannya:

Pada bidang kompetensi Pengawasan Mutu Hasil Pertanian, uji kompetensi telah berjalan selama tiga hari dari total empat hari yang dijadwalkan. Ujian ini diikuti oleh 40 siswa, yang terdiri dari 38 siswa kelas XII dan dua siswa kelas XI. Dua siswa yang masih duduk di kelas XI ini terpilih untuk mengikuti UKK bersama kakak-kakak kelasnya karena mereka memiliki kompetensi memadai dan masih ada kuota yang tersedia.

Menurut asesor SMKN 1 Cibadak, Wagiyono, perbandingan jumlah asesor dengan peserta asesmen pada jurusan Pengawasan Mutu Hasil Pertanian adalah satu banding 10-15 orang. SMKN 1 Cibadak mengambil rasio yang pertama, yaitu satu asesor mengases sepuluh peserta. Karena jumlah peserta kelas XII ada 38, maka dipilih dua siswa berkompeten dari kelas XI untuk ikut pula. “Kalau tidak diisi, sayang fasilitasnya,” kata Wagiyono saat ditemui di selah-selah asesmen UKK di SMKN 1 Cibadak, Jumat (3/3/2017).

Wagiyono mengatakan, dalam melakukan asesmen pada peserta UKK

Pengawasan Mutu Hasil Pendidikan, asesor didampingi oleh tenaga ahli dari Balai Besar Ilmu Agro (BBIA) Bogor. Kerja sama antara dua institusi ini telah berlangsung bertahun-tahun, hingga akhirnya pada 2015 SMKN 1 Cibadak telah mendapat lisensi sebagai Lembaga Sertifikasi Profesi Pihak Pertama (LSP-P1). Namun demikian, untuk menjaga kualitas dan kredibilitas uji kompetensi di SMKN 1 Cibadak, maka tim penguji dari BBIA tetap diundang sebagai tenaga ahli/mitra.

Lisensi LSP-P1 dikeluarkan oleh Badan Nasional Standar Profesi (BNSP). Disebut pihak pertama artinya SMKN 1 Cibadak dapat mengeluarkan sertifikat profesi bagi peserta didiknya baik yang masih berstatus siswa aktif maupun alumni. Tahun lalu, SMK N 1 Cibadak mengikutsertakan lima alumninya pada uji kompetensi ini. Kelima alumni tersebut membutuhkan sertifikat kompetensi karena sertifikat mereka sebelumnya sudah habis masa berlaku. Sertifikat yang dikeluarkan oleh LSP berlaku selama tiga tahun.

SMKN 1 Cibadak terus berupaya meningkatkan kualitas LSPnya. Terbukti, dalam dua bulan terakhir SMKN 1 Cibadak terpilih menjadi satu dari 151 sekolah yang mendapat lisensi sebagai LSP P2, artinya SMK ini dapat beraliansi dengan SMK-SMK sekitar yang memiliki bidang kompetensi yang sama. SMK-SMK yang menjadi aliansi ini dapat menjadi tempat uji kompetensi (TUK) dan sertifikatnya dikeluarkan oleh LSP SMKN 1 Cibadak. SMK aliansi harus berada dalam satu wilayah kabupaten dengan SMK LSP-P2.

Sejak 2013, SMKN 1 Cibadak telah memiliki dua asesor. Kedua asesor ini adalah Wagiyono

yang berlatar belakang kompetensi pengawasan mutu hasil pertanian, dan Anfila Sujarwati yang menguasai bidang Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian dan Perikanan. Wagiyono mengatakan, meskipun kedua asesor ini tidak menguasai semua bidang kompetensi, namun tetap dapat mengases peserta UKK di luar keahlian mereka dengan didampingi tenaga ahli dari bidang kompetensi yang dimaksud.

Untuk memperkuat LSP di SMKN 1 Cibadak, sekolah yang menjadi tempat menuntut ilmu bagi lebih dari 1.400 peserta didik ini sedang menggenjot penambahan asesor. Setidaknya ada 17 nama yang diusulkan untuk menjadi asesor. “Saat ini berkasnya sudah diusulkan ke BNSP dan sedang mengantre untuk asesmen,” kata Wagiyono.

Pada bidang kompetensi Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian, Jumat (3/3/2017) merupakan hari pertama pelaksanaan UKK. Dengan peserta sebanyak 103 orang, UKK akan berlangsung hingga enam hari ke depan. Setiap hari, ujian dibagi dalam tiga sift, setiap sift terdiri dari enam orang yang akan dinilai dalam kelompok maupun perorangan.

Pada bidang kompetensi ini, peserta didik akan mengolah dua jenis pangan yaitu pembuatan roti

dan susu kedelai. Selain membuat olahan dua jenis pangan ini, peserta UKK juga akan melakukan ujian keamanan pangan, organoleptik, analisa usaha, dan desain labeling. UKK untuk membuat roti dilakukan pada tiga hari pertama, sedangkan membuat susu kedelai dilakukan pada hari ke empat hingga ke enam.

Disampaikan Anfila Sujarwati, saat UKK ia didampingi oleh tim dari dunia usaha dunia industri (DUDI). Sejak empat tahun lalu, SMKN 1 Cibadak bermitra dengan Carrefour sebagai mitra dari DUDI untuk menyaksikan dan menilai UKK di sekolah ini. Selain dengan Carrefour, SMKN 1 Cibadak juga bermitra dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) yang akan menilai dari sisi keilmuan.

Menurut penguji dari Carrefour, Sumarni, SMKN 1 Cibadak merupakan salah satu SMK yang memiliki standar tinggi. Baik dari sisi kehigienisan produksi, disiplin, maupun alat-alat yang digunakan. Tak heran, karena SMK ini sejak 2007 lalu telah menjalin kerja sama (sister-school) dengan Jerman. Sehingga alat-alat membuat produk pangan di sekolah inipun sebagian berasal dari bantuan Jerman. “Dari segi alat, alat di sini hampir sama yang kami gunakan di Carrefour, jadi saat mereka masuk ke tempat kami (Carrefour) baik saat PKL maupun bekerja, mereka sudah terbiasa. Selain itu, di sini kebersihannya tinggi, itu yang kami cari,” katanya (Aline Rogeleonick)

 

Sumber :

https://sel.co.id/